Rasanya Nano-nano—PJJ Selama Pandemik Covid-19

Share Infomasi :

Serba-serbi daring-duraring

Oleh: Rani Setiani Purnawangsih

Zoom Meet? Google Meet? Google Classroom?—Apa ini semua?

WFH—Work From Home, bekerja dari rumah. Ya, siapa yang sebelumnya pernah mengira kegiatan belajar dapat dilakukan dengan jarak jauh, terutama tingkat sekolah dasar yang sangat memerlukan banyak interaksi secara langsung antara pendidik dengan anak didik. Namun, nyatanya hal ini sungguh terjadi.

Semua terjadi gegara Covid-19. Wabah yang disebabkan virus yang berasal dari Negara sebelah. Tak hanya di Indonesia, wabah ini juga menjadi pandemik di seluruh dunia tak terkecuali. Pandemik ini mulai hadir di Indonesia sejak pertengahan Februari 2020. Wabah Covid-19 merupakan virus yang sangat berbahaya dan mudah menyebar. Penularannya pun bisa melalui media udara sehingga mengharuskan setiap orang menggunakan masker sebagai salah satu cara pencegahannya. Pencegahan penularan dapat dilakukan dengan mudah, selalu menggunakan masker setiap bepergian, mencuci tangan menggunakan air mengalir, dan selalu jaga jarak. Hanya butuh kesadaran bukan penyangkalan untuk melakukan pencegahan  penularan sekaligus pemutusan siklus Covid-19.

Entahlah, apakah sebelumnya memang ada Covid-1, Covid-2, Covid-3, hingga sekarang ada Covid-19. Namun yang jelas, Covid-19 nyatanya membuat semua aspek dalam kehidupan menjadi terganggu karena di awal penyebarannya menyebabkan setiap orang harus melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari. Diterima atau tidak, hal tersebut tetap harus dilaksanakan. Oleh karena itu, automatis segala aspek yang dilakukan secara mobile harus dihentikan dan dilakukan dari rumah masing-masing. Mulai dari aspek ekonomi termasuk aspek pendidikan.

Awalnya, aku mengira hanya karyawan perkantoran yang melakukan WFH. Namun, persebaran virus Covid-19 yang semakin meningkat dan menyebabkan banyak pasien terinfeksi Covid-19 yang meninggal  akhirnya WFH pun diberlakukan untuk instansi pendidikan. Tepatnya pada 16 Maret 2020 sekolah resmi mengeluarkan Surat Edaran bahwa pembelajaran dilakukan dari rumah.

Entah harus senang atau tidak ketika diputuskan harus melakukan pembelajaran dari rumah, yang pasti kurasakan saat itu adalah merasa bingung. Bagaimana menyampaikan materi agar dipahami anak didik? Ketika bertatap muka saja masih ada kesulitan bagi anak didik untuk memahami penjelasan materi bagaimana ketika harus disampaikan melalui pembelajaran jarak jauh (PJJ)—sepintas pada mulanya aku  berpikir anak didik akan lebih mudah menyelesaikan hasil pembelajarannya ketika pembelajaran harus  dilaksanakan dari rumah.

Minggu pertama dilaksanakan pembelajaran jarak jauh, sungguh dirasa sangat belum terarah. Setiap hari pembelajaran diberikan sesuai jadwal, seperti ketika tatap muka. Begitu padat. Dalam hal ini wali kelaslah yang menjadi nahkoda. Guru mapel, wali kelas, sekaligus orangtua yang harus membimbing anak yang juga melaksanakan PJJ rasanya nano-nano.

Manajemen waktu adalah kuncinya agar semua dapat berjala sesuai jadwalnya. Karena pada nyatanya, PJJ lebih melelahkan dan sangat menyita waktu. Pada awalnya, waktu 24 jam dirasa tidak cukup untuk menuntaskan PJJ—terutama ketika memeriksa hasil belajar siswa hingga anak sendiri sempat terabaikan karena terlalu fokus kepada anak didik juga anak-anak yang ada di bawah bimbingan saya, belum lagi harus mempersiapkan materi pembelajaran.

Berawal dari hal inilah—bagaimanan mempersiapkan bahan ajar agar dapat dipahami juga tidak membosankan. Perlahan saya pun mulai belajar bagaimana membuat bahan ajar menggunakan video. Oleh karena itu, kami—sesama rekan guru saling berbagi ilmu mengenai cara membuat video dengan beberapa aplikasi, seperti Kinemaster, Powerpoint Video, dan Canvas yang selanjutnya kami upload ke channel youtube. Dari proses ini, tanpa disadari aku melangkah satu tahap dalam pemerolehan pengetahuan—bagaimana membuat video pembelajaran hingga memiliki channel youtube.

Disaat kami, aku dan rekan-rekan guru terus melakukan evaluasi-evaluasi mencari solusi-bagaimana agar PJJ ini dapat berjalan beriringan antara sekolah, guru, anak didik, dan orangtua, tak sedikit orangtua yang beranggapan bahwa kami menerima gaji buta, mengajar enak—tidak direpotkan anak didik, dan sebagainya, saat itulah kami, termasuk aku merasa kerja keras kami begitu tidak dihargai. Waktu kami begitu tersita. Otak kami dikuras mencari cara bagaimana menghadapi pertanyaan, tuntutan, dan keluhan-keluhan orangtua yang melebihi kapasitas kami sebagai tenaga pendidik. Akan tetapi, kami tidak menjadikan hal itu pematah semangat kami untuk tetap dan terus memberikan yang terbaik dari kami untuk anak didik.

Belajar memang tidak berbatas usia. Setahap demi  setahap kami belajar memahami berbagai aplikasi yang dapat membantu proses pembelajaran jarak jauh dalam penyampaian materi. Tak berhenti di sana. Kami pun terus mencari dan menambah pengetahuan tentang aplikasi lainnya. Kami pun bersama-sama belajar bagaimana menggunakan aplikasi yang ada di Google. Untuk membuat latihan hasil belajar, kami belajar menggunakan aplikasi Google Form. Juga belajar beberapa aplikasi lainnya, seperti Google Classroom dan Google Site

Ketika pembelajaran tatap muka, fokusku—bagaimana mempersiapkan media pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas. Berbeda ketika PJJ yang memerlukan media lain agar materi tidak sekadar sampai kepada anak didik, tetapi juga bagaimana materi itu dapat  dipahami oleh peserta didik.

Oleh karena itu, di tengah kesibukan membagi waktu antara wali kelas yang menjadi nahkoda selama proses PJJ berlangsung, guru mata pelajaran yang harus siap memberikan jawaban ketika anak didik  mengalami kesulitan perihal materi yang dipelajari, kemudian memeriksa hasil pembelajaran yang dikirimkan anak didik, juga sebagai orangtua yang harus membimbing anaknya melaksanakan PJJ—tuntutanku sebagai tenaga pendidik harus terus menggali kemampuanku dan menambah pengetahuanku semua aplikasi yang mudah digunakan oleh semua pihak sehingga proses belajar pun berjalan lancar.

Tak dapat dipungkiri, selama pelaksanaan PJJ ini—wawasanku bertambah begitu pun keterampilanku dalam menggunakan beberapa aplikasi. Kini, aku lebih paham bagaimana membuat video pembelajaran sendiri menggunakan aplikasi Kinemaster hingga diupload ke channel youtube sendiri sehingga bisa berbagi ilmu melalui dunia maya bersama guru-guru di seluruh Indonesia. Tak hanya aplikasi Kinemaster, aku pun mengenal aplikasi Zoom Meet dan Google Meet—aplikasi untuk melakukan tatap maya. Begitupun dengan aplikasi Google Form untuk membuat link soal yang hasilnya langsung masuk database.

Dramatisasi selama PJJ

            Sebagai orangtua yang juga harus membimbing anaknya mengikuti PJJ, aku dapat merasakan sebagian orangtua yang tetap harus bekerja sehingg tidak dapat membimbing anaknya mengikuti KBM daring sesuai jadwal  dan baru dapat membimbing anaknya setelah tiba di rumah sepulang bekerja.

            Tentunya bukan hal yang mudah bagi sebagian orangtua untuk membimbing anaknya untuk menyampaikan sekaligus menjelaskan kembali materi yang disampaikan guru. Di mata anakku, saya adalah ibunya—bukan seorang  guru sehingga saya  terkadang butuh usaha untuk membujuknya belajar dan menyelesaikan latihan pembelajarannya. Tak hanya itu, sering terucap ungkapan-ungkapan sebagai bentuk protes ketika saya sibuk menyampaikan materi dari guru mata pelajaran atau ketika harus memberikan feed back terhadap hasil belajar anak didik.

            “Hayu atuh Ibu, kapan belajarnya Aang teh.”

“Iya tunggu sebentar, ini penting!” jawabku kepada Aang dengan tangan memegang hp dan pandangan fokus pada pesan yang kutulis.

“Penting, penting, emang Aang enggak penting gitu!” sontak pernyataannya sungguh menamparku.

Hal ini sering terjadi tanpa aku sadari. Betapa piciknya aku, ketika anakku sendiri harus aku prioritaskan aku lebih mengutamakan yang lain. Aku pun harus mengatur ulang jadwal agar aku dapat menjalankan semuanya dengan seimbang. Aku pun bersyukur ketika ada reschedule tentang jam mengajar yang dibebankan ketika harus mengajar jarak jauh. Ada perampingan jam mengajar juga jadwal pembelajaran. Hal ini membuatku sedikit lega karena aku dapat membimbing anakku mengikuti PJJ sesuai jadwal.

Ini semua sudah rencana Allah Swt. Semua kembali kepada-Nya. Begitupun dengan pandemik ini. Kita sebagai manuasia selalu diwajibkan untuk ikhtiar dan berusaha karena tidak dapat disangkal, kondisi ini sangat berpengaruh juga pada aspek perekonomian. Keterbatasan beraktivitas membuat semuanya menjadi serba terbatas.

Bosan, jenuh, bikin stress itulah yang kini dirasakan ketika PJJ. Akan tetapi, aku harus mematahkan semua rasa itu agar aku tetap fokus dengan tanggung jawabku dan tetap melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.

Inilah serba serbi selama PJJ—seperti nano-nano. Banyak hal yang dirasakan dan dialami. Meski dirasa sangat terbatas, namun banyak hal baik yang diperoleh. Sebagaimana kehidupan, tidak selamanya akan baik dan tidak akan selalu hal yang tidak baik memberikan  keburukan—semua pasti ada hikmahnya, dan bagaimana cara kita menyikapi, menghadapi, dan menjalaninya. Semoga pandemik Covid-19 segera berlalu dan menjadi pelajaran yang baik untuk kita semua. Semoga rasa rindu ini segera terobati untuk kembali melaksanakan pembelajaran di sekolah, bersua bersama rekan guru juga ananda semua—anak didik yang soleh dan solehah.

Bandung Barat, 31 Oktober 2020

(Pemenang ke-3 Lomba Menulis Cerita tentang PJJ Selama Pandemi)

Author

Rani Setiani Purnawangsih

Guru yang satu ini hobi menulis dan membaca. Di awal kelulusan, perhatiannya sempat terfokus pada dunia editing naskah buku umum Islami dan proofreader untuk bacaan kategori anak di dua perusahaan penerbitan di kota Bandung dari awal 2010 hingga 2017, sebelum akhirnya kembali memutuskan ke dunia pendidikan sebagai tenaga pengajar di salah satu sekolah full day di Bandung Barat. Selain itu, hobinya menulis menjadikannya untuk terus belajar membuat karya dalam sebuah buku. Buku solo pun sudah berhasil diterbitkannya dan 5 buku antalogi.

Comments are closed.
Maret 2024
S S R K J S M
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Tim Support kami akan menjawab pertanyaan bapak/ibu
WeCreativez WhatsApp Support
Info
Raudhatul Athfal (RA)
Available
WeCreativez WhatsApp Support
Info
Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Available